Perjuangan Ernawati: Tukang Sayur dari Pasar Solok yang Dulu Diejek, Kini Menjadi Tamu Allah

Di sudut Dusun Gantiang, Jorong Sungai Rotan, Nagari Cupak, hidup seorang perempuan yang tubuhnya kecil tapi semangatnya menjulang tinggi. Ernawati Malik, 70 tahun, sehari-hari dikenal sebagai tukang sayur yang mondar-mandir di pasar-pasar tradisional Kabupaten Solok. Tak ada yang menyangka, perempuan ini yang dulu kerap diejek karena melahirkan banyak anak kini menapakkan kaki ke Tanah Suci, memenuhi panggilan Ilahi.

Ditemui di Asrama Haji Embarkasi Padang sebelum berangkat bersama Kloter 13 Embarkasi Padang, Etek Erna, begitu ia disapa, menceritakan kisah hidup yang seperti mozaik luka dan doa. Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun memegang sayur basah itu mengepal erat menandakan semangat dan hati yang sudah tidak sabar menuju tanah suci beberapa jam lagi dan hal ini sudah ia impikan sejak dari tahun 2012

“Baranak ka baranak se,” ejekan itu masih terngiang di telinganya, meski sudah puluhan tahun berlalu. Ia ingat betul wajah-wajah yang mencibir, mengejeknya karena terus melahirkan anak meski hidup serba pas-pasan. Ia hanya diam waktu itu. Tak ada waktu untuk membalas. Ia sibuk menghitung kembalian, mengatur ikatan sayur, dan menabung dari uang receh demi receh.

Ia bukan petani, tak punya sawah atau ladang. Sayur ia beli dari orang lain, lalu dijual kembali di Pasar Cupak, Muaro Paneh, Talang, dan Guguak. Untungnya tak seberapa. Kadang cuma lima ratus rupiah dari satu ikat. Sehari paling banter bisa bawa pulang 100 ribu rupiah. Tapi dari situlah ia bisa hidup bersama suami, enam anak, dan sederet impian yang tak pernah pupus.

Sang suami, Asril Lantasir, juga bukan orang berada. Ia penjual kelapa di pasar yang sama. Keduanya menjalani hidup dalam kesederhanaan yang bersahaja. Tapi tekad mereka untuk menyekolahkan anak-anak hingga ke perguruan tinggi tak pernah goyah. Tiga anak berhasil kuliah: satu di UNP, satu di UNAND, dan satu di UPI. Biaya kuliah? Ditanggung bersama dari julo-julo—arisan kecil yang ia ikuti, setor 20 ribu seminggu.

Ada banyak malam yang mereka lewati dengan air mata, mengencangkan ikat pinggang agar anak-anak bisa makan bergizi, membayar uang kuliah, beli seragam, hingga ongkos ke kota. Tapi semua itu tak pernah menjadi alasan untuk menyerah. “Kalau niat baik, Allah bantu,” katanya sambil tersenyum, menahan haru.

Waktu berjalan. Anak-anaknya kini telah berkeluarga. Ia memiliki 15 cucu. Tapi hidup tak lantas berubah mewah. Mereka tetap tinggal di rumah yang sederhana. Tetap ke pasar tiap pagi. Tetap menghitung rupiah demi rupiah. Tapi ada satu yang berubah: kini mereka dihargai.

Tahun 2012, Ernawati mendaftar haji. Ia lakukan itu diam-diam. Ia tidak ingin membuat janji besar pada siapa-siapa. Ia tahu, untuk ukuran pedagang sayur, mendaftar haji saja sudah sebuah keberanian yang luar biasa. Tapi ia percaya, Tuhan tak akan membiarkan doa hamba-Nya yang sabar menggantung sia-sia.

Pelunasan biaya haji suaminya dibantu oleh anak-anak. Tapi untuk dirinya sendiri, ia ingin itu murni dari jerih payahnya. “Kalau dari keringat sendiri, hati saya lebih tenang,” katanya. Selain persiapan logistik dan fisik, justru doa-doa panjang untuk anak cucunya yang paling ia siapkan, agar hidup mereka lebih ringan daripada yang ia dan suami rasakan.

Kini Ernawati tak lagi hanya seorang tukang sayur. Ia menjadi simbol keteguhan dan keyakinan. Di tengah gelombang cibiran, ia mendidik anak-anak, membuktikan bahwa latar belakang bukan penghalang untuk mengejar cita dan agama.

Di Tanah Suci nanti, ia berdoa bukan untuk kekayaan. Tapi agar anak-anaknya tetap sehat, diberi rezeki halal, dan kelak bisa menapak jalan kebaikan. “Cukuplah kami yang hidup susah,” katanya lirih. Di balik keriput wajahnya, ada ketegaran yang tak bisa diajarkan oleh buku manapun.

Cerita Ernawati bukan tentang keajaiban, tapi tentang ketabahan. Ia bukan tokoh besar di layar kaca, tapi kisahnya mengajari kita bahwa sejatinya, keimanan dan perjuangan bisa tumbuh di lapak sayur kecil di pasar, di tangan kasar seorang ibu yang selalu percaya bahwa rezeki tak akan tertukar.

Kini, ia dan suami sedang dalam perjalanan panjang ke Baitullah. Membawa serta doa-doa yang ia tanam bertahun-tahun di ladang kesabaran. Dan kita, hanya bisa menunduk haru, menyaksikan kepergian mulia dari seorang ibu yang dulu diremehkan karena keterbatasan ekonomi, karena banyak anak, karena jualan sayur, tapi pulang sebagai tamu Allah. (HumPro)

Read Previous

Maksimalkan Layanan, Konsumsi bagi Jemaah Lansia dan Risti Diantar Langsung ke Kamar

Read Next

Wakaban Tinjau Layanan Asrama Haji Padang, Dorong Pengadaan Mockup Pesawat untuk Manasik

Open Chat WhatsApps
Klik, Untuk Chat Langsung
WhatsApps
Hallo, untuk pemesanan kamar dapat langsung menghubungi kami dengan cara mengklik "Open Chat WhatsApps" dibawah